‎Tokoh Agama Zuhri Sampaikan Seruan Hati untuk Berdamai di Tengah Proses Hukum Peristiwa SMKN 3 Berbak‎

0
IMG-20260120-WA0026

Jurnalisis.com, Tanjab Timur/Jambi – Di tengah kabar bahwa peristiwa yang terjadi di lingkungan SMKN 3 Berbak telah memasuki ranah pelaporan ke pihak kepolisian, tokoh agama Tanjung Jabung Timur yang berdomisili di Kecamatan Nipah Panjang, Zuhri, menyampaikan pesan yang lahir dari keprihatinan dan harapan mendalam agar semua pihak dapat menemukan jalan terbaik yang penuh hikmah dan kedamaian.

‎Dengan suara yang sarat empati, Zuhri mengajak semua pihak untuk sejenak menenangkan hati dan merenungkan kembali tujuan luhur pendidikan. Menurutnya, di balik proses hukum yang sedang berjalan, ada amanah besar yang tidak boleh terlupakan: menjaga masa depan anak-anak dan kehormatan para pendidik.

‎“Guru dan siswa sejatinya bukan dua pihak yang berhadapan, tetapi satu keluarga besar dalam dunia pendidikan. Jika terjadi luka, mari kita obati bersama, bukan saling menambah perih,” ujarnya.

‎Zuhri menuturkan bahwa setiap persoalan yang melibatkan emosi sering kali berangkat dari kesalahpahaman. Oleh karena itu, ia berharap tabayyun dan keikhlasan dapat menjadi pintu pembuka agar hati kembali dipertemukan. Ia mengingatkan bahwa damai tidak selalu berarti mengalah, melainkan memilih kebaikan yang lebih besar.

‎Ia juga mengajak masyarakat untuk tidak larut dalam kegaduhan dan saling menyalahkan. Menurutnya, komentar yang lahir dari emosi justru dapat memperdalam luka bagi mereka yang terlibat langsung, terutama para siswa yang masih dalam masa pencarian jati diri.

‎Di tengah proses hukum yang kini berjalan, Zuhri berharap ruang doa, musyawarah, dan pembinaan tetap hidup. Ia percaya bahwa hukum dan kebijaksanaan dapat berjalan berdampingan, selama niat yang dibangun adalah kebaikan dan kemaslahatan bersama.

‎“Tidak ada orang tua yang ingin anaknya kehilangan masa depan, dan tidak ada guru yang ingin kehormatannya tercabik. Semoga Allah melembutkan hati kita semua,” tuturnya lirih.

‎Ia menutup pesannya dengan ajakan yang menyentuh nurani: agar semua pihak menjadikan peristiwa ini sebagai jalan untuk saling memaafkan dan memperbaiki diri. Baginya, kemenangan sejati bukanlah ketika satu pihak merasa benar, tetapi ketika semua pihak menemukan ketenangan.

‎“Semoga dari peristiwa ini lahir kedewasaan, bukan dendam; lahir perbaikan, bukan perpecahan. Dunia pendidikan membutuhkan kasih sayang, bukan luka yang diwariskan,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *